Link Kedinasan

:)

DEWAN GURU

Pahlawan tanpa tanda jasa

Pintar, kaya, kuat, bukan tujuan kesemuanya hanya imbas dan buah dari ketekunan dan kesabaran

Bimbingan

Pintar itu biasa yang luar biasa itu proses menjadi pintar

Program Pembiasaan

Bisa karena terbiasa, Budaya bersih dan kebiasaan baik lainnya ditanamkan sejak dini sebagai bentuk pengejawantahan karakter bangsa besar

Menyala

Api, api, api, api telah menyala kobarkan semangat pelajar, mencintai negeri, para idealis muda

Admin Web

Terus berkarya, bekerja, tak kenal henti, meraih ridho Illahi

17 Okt 2016

10 Mitos Kompetisi yang Harus Diketahui Orang Tua agar Tidak Salah Kaprah

Silahkan pelajari mitos kompetisi ini. Dan mari kita pikirkan ulang ragam kegiatan anak, jangan terbatas pada lomba semata.
Mitos 1: Kompetisi membuat anak semangat belajar
Kenyataan: Kompetisi membuat anak semangat belajar HANYA menjelang kompetisi.
Mitos 2: Hanya dengan kompetisi anak belajar percaya diri
Kenyataan: Anak belajar percaya diri tidak hanya dengan kompetisi, tapi juga dengan kolaborasi ketika anak merasa bisa berkontribusi pada kelompok. Kompetisi seringkali justru menciptakan kepercayaan diri yang semu pada anak.
Mitos 3: Anak ikut lomba agar mempunyai semangat kompetitif
Kenyataan: Semangat kompetitif sudah bawaan sejak lahir. Tanpa ikut lomba pun, setiap orang sudah mempunyai semangat kompetitif
Mitos 4: Kompetisi bisa mengukur prestasi anak
Kenyataan: Prestasi anak yang diukur melalui kompetisi akan membuat anak tergantung pada kompetisi untuk berprestasi. Dalam berkarier, kinerja anak tidak didasarkan pada kemenangan pada sebuah lomba, melainkan pada karya dan kontribusinya
Mitos 5: Kompetisi membuat anak belajar lebih baik
Kenyataan: Situasi kolaborasi yang nyaman membuat anak belajar lebih baik dibandingkan situasi kompetisi.
David Johnson, profesor psikologi sosial di Universitas Minnesota mengkaji semua riset dengan topik kompetisi yang dilakukan sejak 1924 hingga 1980. Hasilnya, 65 studi membuktikan bahwa anak-anak belajar lebih baik ketika berada dalam lingkungan yang kooperatif dibandingkan yang kompetitif, 8 studi membuktikan sebaliknya dan 36 studi menemukan tidak ada perbedaan antara keduanya.
Mitos 6: Kompetisi membuat anak mendapat teman baru
Kenyataan: Anak mendapat teman baru tidak hanya melalui kompetisi. Lebih mungkin anak menjalin pertemanan berkualitas dengan anak yang dikenal melalui kegiatan kolaborasi.
Mitos 7: Dengan kompetisi anak belajar menghadapi kegagalan
Kenyataan: Kegagalan terbesar bukanlah gagal mengalahkan orang lain dalam kompetisi, tapi gagal mencapai sasaran yang telah ditetapkan sendiri. Berkompetisi dengan diri sendiri justru membantu anak menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari
Mitos 8: Kompetisi adalah cara terbaik untuk meniti karier
Kenyataan: Pada masa lalu, kompetisi mungkin cara terbaik untuk meniti karier. Saat ini, di jaman kreatif, ada banyak anak muda yang sukses berkarier tanpa melalui kompetisi. Karena modal utama meniti karier adalah karya, bukan jumlah piala.
Mitos 9: Semua bidang bisa dikompetisikan
Kenyataan: Kompetisi hanya efektif pada bidang yang capaiannya bisa diukur dan kasat mata seperti sepakbola dan bulu tangkis.
Mitos 10: Kompetisi baik untuk anak semua umur
Kenyataan: Dampak negatif kompetisi paling besar dirasakan oleh anak-anak di bawah 13 tahun. Ikut kompetisi hanya baik untuk anak di atas 13 tahun, itu pun dengan catatan tidak terlalu sering mengikutinya.

14 Okt 2016

Anak Takut Sekolah

Tanya : Anak saya (6) tiba-tiba suka sakit perut atau gelisah, jika berangkat sekolah. Apakah ini psikosomatis?

Jawab: Menurut Mappiare (2006), psikosomatis mengacu kepada kondisi fisik yang ditimbulkan oleh salah-suai (maladjustment) secara psikologis. Maladjustment menunjuk ke penyesuaian diri individu yang buruk pada kondisi dirinya sendiri dan situasi lingkungannya. Bisa jadi, si kecil mengalami psikosomatis. Sebelumnya, Anda harus memastikan apakah ia sakit perut atau hanya merupakan suatu alasan saja.

Perhatikan bahasa tubuhnya, atau bawalah ia ke dokter saat sakit perut. Namun, apakah anak benar-benar mengalami psikosomatis atau tidak, itu tidak perlu dipersoalkan. Adanya kegelisahan dan keluhan setiap kali akan berangkat ke sekolah sudah cukup memperlihatkan adanya sesuatu yang menurut anak terjadi di sekolah dan hal tersebut tidak menyenangkan.

Yang perlu dilakukan adalah mengajak anak bicara saat ia tenang, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Bentuk pertanyaan jangan langsung mengarah kepada ‘mengapa sakit perut’ atau ‘ada apa di sekolah’, tetapi lebih pada eksplorasi terhadap berbagai aktivitasnya di sekolah. Proses eksplorasi itu akan memakan waktu, karena Anda perlu mengetahui secara jelas suatu kejadian dan bagaimana anak mempersepsikannya. Kejadian bisa jadi merupakan suatu peristiwa yang terkait dengan teman sekelas, lawan jenis, guru, mata pelajaran tertentu, dll.

Jika ia sulit bercerita, Mama bisa bertemu dengan guru kelasnya untuk mencari tahu perilaku anak di kelas, hubungannya dengan teman, atau apa pun yang selama ini menjadi pengamatan guru. Ingat, perasaan anak tentang apa yang ia alami dan rasakan adalah sesuatu yang bersifat subjektif. Ungkapan yang bertendensi meremehkan, seperti, “Ah, cuma begitu saja” atau “Jangan dipikirin, deh,” harus dihindari, agar anak merasa nyaman terbuka. Bila ia cukup terbuka dan sering curhat, ajak berdiskusi untuk menemukan hal yang mengganggu. Bila ‘sumber kegelisahan’ anak sudah ditemukan, cobalah konfirmasikan, apakah ia memang merasakan hal tersebut, dan bantulah menyelesaikannya. Setelah semua langkah dilakukan, namun anak tetap gelisah dan tidak ada perubahan sama sekali, barulah ajak anak berkonsultasi dengan psikolog.

Narasumber: Nessi Purnomo, Psi., MSi. Psikolog keluarga

11 Okt 2016

Bacakanlah buku pada anak

Disarikan dari sebagian isi buku Positive Parenting yg ditulis Moh. Fauzil Adhim

Jennifer lahir tidak seperti anak pada umumnya. Dia menderita down syndrome (keterbelakangan mental yg membuat seseorang memiliki IQ rendah sehingga tidak bs hidup secara wajar). Tidak hanya itu, pada usia 2 bulan, Jennifer hampir-hampir mengalami kebutaan, tuli, dan keterbelakangan mental yg parah. Bahkan di usia yg sangat belia Jennifer menjalani bedah korektif karena mengalami gangguan jantung.

Lalu apa yg dilakukan ibu Jennifer?
*Terapi!*
Marcia Thomas (Ibu Jennifer) membacakan sebelas buku setiap hari pada anaknya yg masih bayi.
Hasilnya?
Pada usia 4 tahun, IQ Jennifer mencapai *111*. Sebuah keajaiban.
Mengajarkan membaca pada bayi memberi rangsangan yg paling kompleks pada otak bayi, dibandingkan kegiatan lainnya, misalnya nonton TV.

Ada 8 aspek yg bekerja saat membaca yakni sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi dan afeksi. Apabila ini terjadi pada bayi, otaknya akan berkembang pesat karena rangsangan yg sangat kaya.
Dalam kebijakan pemerintah Amerika "No Child Left Behind", program utamanya adalah pembelajaran membaca sejak bayi

NB: pembelajaran membaca berbeda dg mengajari kemampuan membaca secara terstruktur, hal ini bisa dibaca dlm tulisan Moh Fauzil Adhim tentang pembelajaran membaca sejak dini

Memilih Hukuman

*CARA CERDAS MENGHUKUM ANAK*

*Oleh: Dr. Jasim Muhammad Al-Muthawwa' (Pakar Parenting dari Kuwait)*

Cara cerdas menghukum anak?

Seorang ibu berkata: "Saya memiliki dua orang anak, pertama berusia 6 tahun dan yang kedua 9 tahun, saya bosan terlalu sering menghukum mereka karena hukuman _(iqob)_ tidak ada manfaatnya, kira-kira apa yg harus aku lakukan?".

Saya berkata: "Apakah anda sudah mencoba metode memilih hukuman?
Ibu tersebut menjawab: "Saya tidak  paham, bagaimana itu?"

Saya jawab: "Sebelum saya jelaskan metode ini, ada sebuah kaidah penting dalam meluruskan perilaku anak yang harus kita sepakati, bahwa setiap jenjang usia anak memiliki metode pendidikan tertentu. Semakin besar anak akan membutuhkan  berbagai metode dalam berinteraksi dengannya. Namun, anda akan mendapati bahwa metode memilih hukuman cocok untuk semua usia dan memberikan hasil yang positif".

Sebelum menerapkan metode ini kita harus memastikan, apakah anak melakukan kesalahan karena tidak tahu (tanpa sengaja), jika kondisinya seperti ini tidak perlu dihukum namun cukup diingatkan kesalahannya.

Tetapi jika kesalahannya diulangi atau melakukannya dengan sengaja, kita bisa menghukumnya dengan banyak cara diantaranya tidak memberinya hak-hak istimewa, memarahinya dengan syarat bukan sebagai pelampiasan( balas dendam) dan jangan memukul.

Kita juga bisa menggunakan *Metode Memilih Hukuman*.

Idenya begini, kita meminta anak duduk merenung, dan  memikirkan tiga jenis hukuman yang diusulkan kepada kita seperti: tidak diberi uang jajan, tidak boleh bermain ke rumah temannya selama seminggu, atau tidak boleh menggunakan handphone selama sehari.
Kemudian kita pilih salah satu untuk kita jatuhkan padanya.

Ketika tiga hukuman tidak sesuai dengan keinginan orang tua, contohnya: tidur, atau diam selama satu jam atau merapikan kamar, maka kita minta dia untuk mencari lagi tiga hukuman lain.

Ibu ini menyela: "Tapi kadang hukuman-hukuman yang diusulkan tersebut tidak memberi efek/tidak membuat anak sadar juga!"

Saya katakan: "Kita harus membedakan antara _ta'dib_ (mendidik) dengan _ta'dzib_ (menyiksa)!".

Tujuan _ta'dib_ adalah meluruskan perilaku yang salah pada anak dan ini butuh kesabaran,  pengawasan _(mutaba'ah)_, dialog dan nasehat yang terus-menerus.

Sedangkan berteriak didepan anak atau memukulnya dengan keras, ini _ta'dzib_ bukan _ta'dib_; karena kita menghukum anak tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan tapi berlebihan, sebab disertai dengan marah. Disebabkan kita banyak tekanan hidup lalu kita lampiaskan kepada anak dan anak jadi korban. Kemudian kita menyesal setelah menghukum mereka atas ketergesaan kita.

Kemudian saya berkata: Saya tambahkan hal penting, ketika anda berkata kepada anak anda: Masuk kamar, merenung dan dan pikirlah tiga jenis hukuman dan saya pilihkan satu untukmu.  sikap seperti ini adalah merupakan pendidikan _(ta'dib)_ untuk sendirinya karena ada dialog batin dengan dirinya, antara anak yang melakukan kesalahan dengan dirinya. Ini merupakan tindakan yang baik untuk meluruskan perilaku anak dan memperbaiki kesalahan yg telah diperbuat.

Si Ibu berkata: "Demi Allah, ide yang bagus, saya akan coba".

Saya bilang: "Saya sendiri telah mencobanya, bermanfaat dan berhasil. Banyak juga keluarga yang mencoba menerapkannya dan ampuh juga hasilnya".

Karena ketika anak memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Maka sesungguhnya kita telah menjadikannya berperang dengan kesalahannya, bukan ketegangan dengan orang tuanya, disamping kita bisa menjaga  ikatan cinta orang tua dengan anak.

Selain itu kita telah menghormati pribadi anak dan menjaga kemanusiaannya tanpa menghina ataupun merendahkannya.

Siapa yang merenungkan metode _ta'dib_ Rasululllah _shallahu 'alaihi wa sallam_ terhadap orang yang melakukan kesalahan maka akan didapati bahwa beliau menta'dib dengan menghormati, menghargai dan tidak merendahkannya.

Kita menemukannya dalam kisah wanita Ghamidiyah yang berzina dan minta di rajam, salah seorang sahabat mencelanya lalu Rasulullah bersabda: "Sungguh dia telah bertaubat, andai (taubatnya) dibagikan dengan penduduk madinah, niscaya mencukupi".
Sikap menghormati pelaku kesalahan harus tetap ada selama dalam proses _ta'dib_.

Si ibu tadi pergi dan kembali lagi setelah  sebulan. Dia bertutur: " Metode ini benar-benar ampuh diterapkan pada anak-anak saya, sekarang saya jarang emosi, dan mereka memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Saya berterima kasih atas ide ini, tapi saya mau bertanya dari mana anda mendapatkan metode cemerlang ini?"

Saya jawab: "Saya ambil dari metode Al-Qur'an dalam mendidik _(ta'dib)_.

Allah _subhanahu wata'ala_memberikan tiga pilihan hukuman kepada orang yang melakukan dosa dan kesalahan, seperti kafarat bagi orang yang menggauli istrinya disiang hari bulan Ramadhan, kafarat sumpah dan kafarat lainnya, yaitu: memerdekakan budak, atau puasa atau memberikan sedekah. Syariat Islam memberikan tiga pilihan bagi pelaku kesalahan ini. Metode mendidik yang sangat indah".

Ibu berkata: "Jadi ini metode pendidikan Al-Qur'an?"

Saya jawab: "Betul, sesungguhnya Al-Qur'an dan As-Sunnah memiliki banyak metode pendidikan yang luar biasa dalam meluruskan perilaku manusia, baik anak kecil maupun orang dewasa; karena Allah yang menciptakan jiwa-jiwa dan Dia lebih tahu apa yang pantas dan metode apa yg cocok bagi jiwa-jiwa tersebut. Metode mendidik sangat banyak diantaranya 'metode memilih hukuman' yang telah dijelaskan".

Lalu si ibu tadi pergi dalam keadaan bahagia memperbaiki anak-anaknya dan bertambah cinta pada rumahnya.

Diterjemahkatppy  oleh:
Ust. Achmad Fadhail Husni, Lc.
Pusat Peradaban ISLAM

10 Okt 2016

PROGRAM KERJA TAHUNAN PRAMUKA

PROGRAM KERJA TAHUNAN EKSTRAKURIKULER PRAMUKA
I. BIDANG KEGIATAN DAN LATIHAN PESERTA DIDIK
  1. 1. Siaga
    1. Meningkatkan  Latihan Pramuka Siaga dari jenjang :
      1. Siaga  Mula
      2. Siaga  Bantu
      3. Siaga Tata
  2. Pencapaian  SKK

1)   Dua  Macam SKK Agama2)   Dua Macam   SKK  Patriotisme dan seni  Budaya3)   Dua  Macam  SKK  Ketangkasan Dan Kesehatan4)   Dua  Macam SKK Keterampilan dan  Teknik  Pembangunan5)   Dua Macam  SKK Sosial, Gotong  Royong, ketertiban  Masyarakat, Perdamaian  Dunia, dan  Lingkungan  Hidup.

  1. Menyiapkan  Siaga Garuda sesuai  dengan  Persyaratan  yang  berlaku
  2. Latihan  Pemimpin  …………………………………………………………….. 1  Kali
  3. Perkemahan  Siaga  Hari  ……………………………………………………. 2 Kali
  4. Permainan  Bsar  Siaga  ………………………………………………………. 1 Kali
  5. Bazar  Siaga  ……………………………………………………………………….. 1 Kali
  1. 2. Penggalang
    1. Pencapaian  SKU
    2. Meningkatkan  latihan  Pramuka  Penggalang  dari  jenjang  :
      1. Penggalang  Ramu
      2. Penggalang  Rakit
      3. Penggalang  Terap
  2. Pencapaian  SKK
1)           2  Macam  SKK  Agama
2)           2  Macam  SKK  Patriotisme  dan  Seni Budaya
3)           2  Macam  SKK Ketangkasan dan Kesehatan
4)           2 Macam  SKK  Keterampilan dan teknik Pembangunan
5)           2 Macam  SKK  Sosial, Perikemanusiaan, Gotong Royong, Ketertiban masyarakat, Perdamaian dunia, dan Lingkungan Hidup.
  1. Menyiapkan  Penggalang  Garuda sesuai  dengan  persyaratan  yang  berlaku
  2. Gladian  Pemimpin  regu                           …………………………………….   1 Kali
  3. Perkemahan  Sabtu  minggu/ dekat       ……………………………………   4 Kali
  4. Perkemahan/jauh                                         …………………………………..     2 Kali
  5. Lomba  Tingkat I                                           ……………………………………..  1 Kali
  6. Bakti Masyarakat                                          ……………………………………..   2 Kali
  7. Mengikuti Lomba                                         ……………………………………..   4 Kali
  8. Penyegaran                                                     …………………………………..   4 Kali
II. KEGIATAN  BERSAMA  DALAM  SATUAN  GUGUS  DEPAN
  1. Ulang Tahun Gugus depan
  2. Hari Besar Agama dan Hari-hari Besar Nasional
  3. Bakti Masyarakat di lingkungan dimana Gugus Depan berada
III.  BIDANG PENDIDIKAN ORANG DEWASA
  1. Mengirimkan Pembina untuk mengikuti  pertemuan-pertemuan  Pembina yang  diselenggarakan  Oleh  Kwartir  Rating
  2. Mengirimkan  Para Pembina  untuk  mengikuti  Kursus  Pembina  yang  diselenggarakan  oleh  Kwartir  Cabang
IV.  BIDANG TANDA PANGHARGAAN
Sistem  Penghargaan  dijalankan  sebagaimana  mestinya  (disesuikan  dengan  perkembangan  jaman)
V. BIDANG SARANA DAN ADMISTRASI
Mengusahakan  tersedianya :
  1. Buku-buku  Pegangan  Pembina
  2. Perlengkapan  Perindukan  Siaga
  3. Perlengkapan  Pasukan  Penggalang
  4. Sanggar  Bakti  Gugus  Depan
  5. Papan  nama  Gugus  Depan, Stempel  surat  dan  Perangkat  buku-buku  Administrasi
  6. Surat  perijinan  kegiatan  dibuat  sesuai  kebutuhan
  7. Hendaknya diusahakan  asuransi
  8. Kartu  Anggota  (KTA) Pembina  dan  Peserta  didik

PROGRAM KERJA BULANAN PASUKAN PENGGALANGPANGKALAN SD NEGERI KARANG ANYAR 08 PAGI

NO.KEGIATANBULANKET
IIIIIIIVVVIVIIVIIIIXXXIXII
1Penerimaan Golongan Siaga ke Penggalang
2Latihan SKU Penggalang Ramu
3Ujian SKU Penggalang Ramu
4Pelantikan Penggalang Ramu
5Latihan SKU Penggalang Ramu
6Ujian SKU Penggalang Rakit
7Pelantikan Kenaikan Tingkat
8Latihan SKK
9Ujian SKK
10Latihan Tambahan
11Musyawarah Gugus Depan
12Gladian Pemimpin Regu
13Menyiapkan Penggalang Garuda
14Latihan Gabungan
15Perkemahan dekat (PERSAMI)
16Perkemahan Jauh
17Lomba Tingkat I
18Lomba Tingkat II
19Lomba Memperingati HUT RI
20Lomba Antar Regu
21Bakti Masyarakat
22Refreshing dan Tanda Jejak
23Evaluasi
24Rencana Tidak Lanjut

MATERI PROGRAM  (TEORI)  LATIHAN MINGGUANPASUKAN PENGGALANG

NOMATERIPENCAPAIAN SKUKETERANGAN
RAMURAKITTERAP
1Kode Etik Gerakan Pramuka
2Lambang Gerakan Pramuka
3Salam Pramuka
4Struktur Gerakan Pramuka
5Stuktur Gugus Depan
6Sifat dan Fingsi Kepramukaan
7Sejarah Kepramukaan
8Kepemimpinan
9Sejarah Baden Powell
10Pancasila
11PDMPK
12Tanda-Tanda Pengenal
13Pengetahuan Kepramukaan
14Pengetahuan Umum
15SURVIVAL
16Sejarah Bendera Indonesia
17Sejarah Lagu Indonesia
18Sejarah Sumpah Pemuda
19Lambang Negara Indonesia
20Hari-hari Bersejarah
21Teori Berkemah
22Pengetahuan Agama
23Pengetahuan Lalau Lintas
24Susunan Pemerintah DT II
25Lagu-lagu Nasional

MATERI PROGRAM  (TEORI DAN PRAKTEK)  LATIHAN MINGGUANPASUKAN PENGGALANG

NOMATERI TEKPRAMPENCAPAIAN SKUKETERANGAN
RAMURAKITTERAP
1 
SANDI (Kode Rahasia)
1)           Sandi Kotak  I
2)           Sandi Kotak II
3)           Sandi Nomor
4)           Sandi Abjad / Balik
5)           Sandi Rumput
6)           Sandi Koordinat
7)           Sandi Bangun
8)           Sandi Gambar
9)           Sandi Kimia
10)    Sandi Semaphore
11)    Sandi Angka
12)    Sandi Napoleon
13)    Sandi Morse
2 
MORSE
1)           Kode / Tulisan
2)          Bendera
3)          Peluit
3 
SEMAPHORE
1)          Kode / Tulisan
2)          Bendera
4Tali Temali
5KIM
6PPPK dan Kesehatan
7Tanda Kecakapan Khusus
1)          TKK Berkemah
2)          TKK Juru Masak
3)          TKK Penabung
4)          TKK Pengamat
5)          TKK Pengatur Rumah
6)          TKK Gerak Jalan
7)          TKK Pengaman Kampung
8)          TKK Penjahit
9)          TKK PPPK
10)   TKK Juru Kebun


MATERI PROGRAM  (PRAKTEK)  LATIHAN MINGGUANPASUKAN PENGGALANG


NOMATERIPENCAPAIAN SKUKETERANGAN
RAMURAKITTERAP
1Baris Berbaris
2Pasang Bongkar Tenda
3Upacara
4Pembuatan Blankar / Tandu
5Pembidaian
6Pembalutan
7Pengobatan
8Panorama
9Pembuatan Peta
10Menaksir
11KIM
12Tali Temali
13Hasta Karya
14Tanda Jejak
15Berkemah
16Halang Rintang
17Bernyanyi
18Mewarnai Gambar
19Menggambar
20Tarian Baris (TBB)
21Seni Budaya
22Olahraga
23Kerja Bakti