Link Kedinasan

:)

DEWAN GURU

Pahlawan tanpa tanda jasa

Pintar, kaya, kuat, bukan tujuan kesemuanya hanya imbas dan buah dari ketekunan dan kesabaran

Bimbingan

Pintar itu biasa yang luar biasa itu proses menjadi pintar

Program Pembiasaan

Bisa karena terbiasa, Budaya bersih dan kebiasaan baik lainnya ditanamkan sejak dini sebagai bentuk pengejawantahan karakter bangsa besar

Menyala

Api, api, api, api telah menyala kobarkan semangat pelajar, mencintai negeri, para idealis muda

Admin Web

Terus berkarya, bekerja, tak kenal henti, meraih ridho Illahi

14 Jul 2020

Mencurahkan Perhatian dan Kasih Sayang.

Kata kasih dan sayang mengandung pengertian yang sangat luas. Setiap manusia perlu tahu dan mengerti apa makna kasih sayang yang sebenarnya, sekaligus memilikinya di dalam sanubari. Seseorang akan kekeringan jiwa jika hidup tanpa memiliki kasih sayang. Apapun yang terjadi, pasti dia akan selalu ingin dicintai sekaligus mencintai orang lain, dari pertama kali lahir di dunia sampai ajal menjemput. Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang sempurna dari seluruh penciptaanNya. Sudah barang tentu manusia memilki kadar rasa kasih sayang sebagai salah satu anugerah dari Allah. Perlu rasanya kita mengkaji diri dan men-tafakkurkan sudah sejauh mana kita sebagai hambaNya menempatkan diri menjadi pribadi yang siap menebar kasih sayang dengan dihiasi nuansa keislaman. Cinta & kasih sayang Allah adalah cinta yang tidak terbatas. Hakikat & ukurannya tidak akan pernah dapat dipersamakan dengan kasih sayang siapapun. Allah Swt berfirman, “Rahmat (kasih sayang)-Ku meliputi segala sesuatu”. (QS.Al-A’raf : 156).  Allah memiliki banyak nama-nama yang baik (Asmaul Husna), diantaranya sifat Rahman & Rahim, karena kedua sifat inilah Allah menciptakan seluruh alam semesta yang tujuannya agar makhlukNya bisa merasakan sentuhan cinta & kasih sayangNya. Bukan tak mungkin, apabila Allah tidak memiliki kedua sifatNya ini. Alam beserta isinya ini tidak akan terhampar sebagai hasil curahan kasih sayangNya, belum lagi tetesan kasih sayang yang diberikan Allah dalam setiap catatan kehidupan kita. Mulai dari bangun pagi, sampai memejamkan mata, Allah selalu memberikan perhatian kasih sayangNya. Nafas kita, jantung serta pergerakan denyut nadi kita tak luput dari kuasaNya. Dalam sebuah hadits Muslim Ibn Al-Hajjaj Al-Qusyairi menyebutkan bahwa “Allah memiliki seratus kasih sayang & satu diantaranya Allah bagikan kepada jin, manusia, & makhluk hidup yang ada di bumi. Sedangkan yang 99 lagi, Allah simpan untuk ditunjukkan di hari kiamat kelak”. Manusia sendiri pada dasarnya difitrahkan memiliki rasa cinta & kasih sayang, khususnya kepada lawan jenis. Hal ini merupakan sunnatullah dan tak bisa dihindari. Sejak Nabi Adam as diciptakan Allah, sebagai manusia pertama, Allah pun menyadari bahwa Adam menginginkan teman sebagai tempat bercengkrama di sampingnya. Hal inilah yang lantas Allah tunjukan dengan menciptakan Hawa sebagi pendamping Nabi Adam as. Motivasi cinta dan kasih sayang yang telah dianugerahkan oleh Allah seharusnya menjadi energi yang penting sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah. Sebab dengan mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada Allah bukan mustahil perjalanan kehidupan akan selalu terarah. Lantas pertanyaan yang akan timbul adalah bagaimana kita mengaplikasikan nilai-nilai kasih sayang sebagai jalan ibadah kepada Allah Swt? 1. Menciptakan Rasa Kasih dan Sayang Dalam Keluarga Agar di dalam suatu keluarga bisa tercipta rasa saling sayang dan mengasihi, maka masing-masing anggota keluarga harus selalu berusaha menciptakan kebahagiaan bagi anggota keluarga yang lain. Ibu memberi rasa sayang pada bapak dan anaknya, kemudian bapak mencurahkan semua perhatian pada istri dan keturunannya. Sedangkan anak bisa memberikan rasa cinta dan hormatnya pada kedua orangtuanya. Hal ini akan menyuburkan perasaan saling terikat antara satu dan yang lain dan menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. 2. Menjadi teladan bagi Anak Apa yang menjadi kesedihan bagi salah satu anggota keluarga, maka akan menjadi kesedihan bagi semuanya. Demikian pula bila ada yang mendapat kebahagiaan, maka semua bisa ikut merasakan kebahagian yang menjadi milik bersama. Ini semua bisa terlaksana bila setiap anggota keluarga, terutama pihak orangtua bisa menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anaknya. Karena sang anak sejak dia lahir selalu ikut orangtua, maka secara mental dia juga menjadikan orangtuanya sebagai panutan dalam menjalani hidupnya. Dan yang tidak kalah penting adalah juga selalu berusaha menghilangkan rasa benci dan dendam bila terjadi permasalahan di antara mereka.
Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900777

Selama Pandemi Covid-19, Banyak Anak Jadi Korban Kejahatan Seksual dan Bullying

Orang tua diharapkan memperkuat pengawasan atas penggunaan gawai oleh anak, terutama keterlibatan anak di media sosial selama pemberlakuan kebijakan belajar di rumah (BDR) menyusul pandemi Covid-19. Hal itu menyusul laporan National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC). Laporan itu menunjukkan, pada April 2020, jumlah kejahatan dan eksploitasi seksual terhadap anak mencapai 4,2 juta atau meningkat dua juta anak sejak laporan NCMEC pada Maret 2020.  Eksploitasi anak itu terus meningkat seiring dengan kian bertambahnya waktu anak bermain dengan gawai menyusul kebijakan pemerintah beberapa negara yang memerintahkan anak belajar dari rumah dan memanfaatkan gawai sebagai sarana belajar dan berkomunikasi dengan guru. Penggunaan gawai juga meningkat karena aktivitas anak di luar rumah dibatasi menyusul pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga pelaksanaan fase new normal. Anak  yang terbiasa bebas melakukan berbagai interaksi sosial seperti bermain dan belajar di luar rumah ataupun di sekolah, mau tidak mau hal tersebut dihindari dan akhirnya mereka bermain menggunakan gawai. Masalahnya, intensitas anak bermain gawai itu disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan kejahatan, salah satunya ekploitasi seksual anak online . “Meningkatnya intensitas anak dalam menggunakan media sosial selama pandemi membuka peluang bagi pelaku kekerasan untuk melakukan grooming sebagai tujuan seksual, “ujar Rio Hendra, selaku Koordinator Advokasi dan Layanan Hukum ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornography, and Trafficking Of Children For Sexual Purposes) Indonesia, dalam Webinar Series “Internet Aman untuk Anak” Batch 3 (tiga) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA), Selasa (30/6) lalu. Menurut Rio, tahapan grooming untuk tujuan seksual berawal ketika oknum mencari anak yang rentan dan mengumpulkan informasi. Lalu, mereka membangun komunikasi dengan anak tersebut. Selanjutnya, ketika anak sudah merasa nyaman dengan oknum tersebut, mereka melakukan perjanjian dengan anak tersebut, sehingga anak menjadi tertutup dengan lingkungan sekitarnya, dan hanya berkomunikasi secara menyendiri dengan oknum tersebut yang disebut fase rahasia dan isolasi. Lalu, secara bertahap oknum meningkatkan komunikasinya ke arah seksual. Untuk menghindari anak dari tindak grooming, Rio memberikan tips: pertama, yakni  anak dididik dan didorong orang tua untuk mampu mengatakan “Tidak” apabila diminta atau diajak dalam situasi yang dapat diindikasikan grooming. Kedua, keluarkan anak dari  grup atau lingkungan yang membuat mereka terjebak dalam situasi tersebut. “Upayakan agar anak mampu menceritakan hal tersebut kepada orang yang mereka percayai ketika mereka atau temannya menghadapi situasi tersebut, “jelas Rio. Selain terjadinya eksploitasi seksual online pada anak, juga perlu diwasapadi cyberbullyng. Founder Yayasan SEJIWA, Diena Haryana berharap agar anak-anak, sebagai netizen unggul mampu memberikan semangat terhadap temannya yang menjadi korban cyberbullying, karena dampak paling parah akibat cyberbullying adalah menyebabkan bunuh diri. “Cyberbullying seperti virus, awalnya hanya 1 (satu) orang yang tidak suka terhadap target bullying, dan akhirnya ia mengajak orang lain untuk ikut membenci dan mengintimidasi target tersebut. Cyberbullying terjadi apabila sudah ada orang yang merasa tersakiti, terluka, dipermalukan, dan merasa sedih, “kata Diena. Ia berharap agar anak-anak diharapkan menjadi netizen unggul yang juga memiliki empati terhadap teman-temannya. Tidak menyakiti orang lain melalui cyberbullying, bahkan mampu memberikan semangat dan mendampingi teman-temannya yang menjadi korban cyberbullying. Ciput Eka Purwianti, Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) mengingatkan kapada para orang tua bahwa seringkali anak tidak mengetahui dan menyadari berbahaya pada media sosial. Menurutnya, masih banyak anak-anak yang tidak mengetahui konsekuensi berbahaya pada media sosial. “Anak harus sadar ketika mereka mengakses media sosial, kemungkinan ada predator seksual anak yang mengintai dan menyasar mereka untuk melakukan hal-hal berbahaya. Mereka mendekati anak-anak melalui pesan langsung (direct message) di media sosial. Sayangnya, anak-anak juga tidak tahu bagaimana caranya melindungi diri mereka dari predator seksual anak di media sosial,” ujar Eka.  Eka berharap agar orang tua bekerjasama dengan anak-anaknya untuk menggunakan parenting control dan melakukan kesepakatan terkait penggunaan media sosial. Parenting control dan kesepakatan dengan orangtua tidak terbatas pada penggunaan media sosial, tapi penggunaan gawai secara umum, termasuk akses aplikasi media sosial, game online, dan materi-materi online lainnya di internet. “Kami berharap anak-anak mampu menjadi netizen unggul,” terang Eka..
Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900863