Link Kedinasan

:)

DEWAN GURU

Pahlawan tanpa tanda jasa

Pintar, kaya, kuat, bukan tujuan kesemuanya hanya imbas dan buah dari ketekunan dan kesabaran

Bimbingan

Pintar itu biasa yang luar biasa itu proses menjadi pintar

Program Pembiasaan

Bisa karena terbiasa, Budaya bersih dan kebiasaan baik lainnya ditanamkan sejak dini sebagai bentuk pengejawantahan karakter bangsa besar

Menyala

Api, api, api, api telah menyala kobarkan semangat pelajar, mencintai negeri, para idealis muda

Admin Web

Terus berkarya, bekerja, tak kenal henti, meraih ridho Illahi

21 Jan 2019

Haji Agus Salim membiasakan anaknya bersikap kritis

Bagaimana Haji Agus Salim, Pejuang kemerdekaan Indonesia, mendidik langsung tujuh dari delapan anaknya melalui homeschooling? Dalam buku Menyingkap Tirai Sejarah (Gramedia, 2012) yang ditulis sejarahwan, Asvi Marwan Adam, diceritakan, Agus Salim tidak menentukan jam belajar dan bermain kepada anak-anaknya. Setiap ada kesempatan, ia menggunakannya untuk mendidik mereka. Ia paham betul cara untuk membuat anaknya selalu ingin tahu dan mengajarkan di mana mereka bisa memuaskan keingintahuan itu, yaitu membaca buku.
Agus Salim memberikan ruang kepada anak-anaknya untuk bertanya, mengkritik, bahkan membantah jika tak sependapat asalkan dengan alasan yang tepat. Ia selalu merangsang anak-anaknya untuk tidak hanya menerima pelajaran begitu saja, tapi juga memiliki daya kritis.
Nampaknya hal itu sesuai dengan karakter Agus Salim sendiri. Ia dikenal sebagai sosok vokal, jago debat, dan memiliki pengetahuan yang luas sehingga berjuluk singa podium. Bahkan, wakil presiden saat itu, Mohammad Hatta menjulukinya Salim op zijn best (Salim adalah orang hebat dan terbaik).
Karena itu, Agus Salim mewajibkan seluruh anak-anaknya mengikuti pelajaran yang ia berikan setiap hari. Pelajarannya mencangkup baca-tulis, bahasa, budi pekerti, dan agama.
Metode pengajarannya sangat menyenangkan tapi tetap mendidik. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung diajarkan secara santai, seolah-olah seperti sedang bermain. Sedangkan nilai-nilai budi pekerti, pelajaran sejarah, dan materi ilmu sosial lainnya diberikan melalui bercerita dan obrolan sehari-hari. 
Agus Salim tak semata-mata mengutamakan kepintaran anak-anaknya, namun juga memperhatikan pertumbuhan jiwa mereka. Ia bersama istrinya tak ingin anak-anak terkekang oleh kehendak orangtua. 
Siti Asiah, salah seorang putri Agus Salim, menuturkan, ayah dan ibunya mengajarkan anak-anaknya secara bergantian dan berlangsung sambil bermain atau ketika sedang makan.
Salah satu model pembelajarannya, ayah dan ibunya sering menyanyikan lagu-lagu yang liriknya diambil dari karya sastrawan dunia. Selain itu, ayahnya juga pandai bercanda, sehingga bisa memikat dan tak membosankan.
Dalam buku Bunga Rampai dari Sejarah, Bulan Bintang, 1972 yang ditulis Mohammad Roem, disebutkan, salah satu kebiasaan menyenangkan sekaligus mencerdaskan yang diterapkan Agus Salim di keluarga adalah membaca. Ia menyediakan buku-buku berbahasa asing. Hasilnya, kecerdasan anak-anak Salim berkembang pesat. Di usia, balita mereka sudah lancar baca-tulis dengan banyak bahasa.
Roem pernah takjub dan terheran-heran saat berbincang-bincang dengan Dolly dan Totok. Keduanya yang saat itu masih usia dibawah 15 tahun, mampu meladeninya saat berdebat tentang pengetahuan yang diajarkan di sekolah tingkat atas(SK)

7 Nov 2018

Al Biruni Sang Astronom

Ketika mempelajari sejarah peradaban Islam, sulit rasanya tidak takjub dan kagum pada prestasi ilmuan dan intelektual muslim di masa lalu. Dari ilmu kedokteran, matematika, filsafat, seni hingga fisika. Di masa keemasannya, umat Islam berada di garis terdepan hampir dalam semua cabang keilmuan. Mereka mempelopori penemuan-penemuan baru dan membangun bangunan keilmuan yang belum pernah dibangun sebelumnya. Nama-nama seperti Ibnu al-Haytham, Ibnu Khaldun, dan lain-lain melayang di pikiran ketika berbicara tentang kehebatan ilmu pengetahuan Islam.
Salah seorang yang berada di kelompok elit ilmuan terbesar sepanjang masa adalah seorang polymath Persia Muslim, Abu Rayhan al-Biruni rahimahullah. Ia hidup pada rentang tahun 973-1048 M. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Asia Tengah dan anak benua India. Sepanjang karirnya, al-Biruni menjadi ahli dalam berbagai cabang keilmuan, termasuk sejarah, fisika, matematika, astronomi, linguistik, perbandingan agama, dan ilmu bumi. Meskipun ketidak-pastian dunia politik Islam terjadi di masanya, ia mampu menghadapinya dan menjadi salah satu ilmuan terbesar sepanjang sejarah.
Masa Kecil Sang Ilmuan
Al-Biruni lahir pada tahun 973 di provinsi Khurasan, di Timur Laut Persia. Sama seperti anak-anak lain di masanya, ia dididik di usia muda. Belajar bahasa Arab dan bahasa Persia, ilmu-ilmu Islam yang mendasar, dan ilmu pengetahuan alam. Awalnya, ia meminati kajian matematika dan astronomi. Di kemudian hari, ia menjadi seorang spesialis dalam dua bidang ilmu ini. Ia adalah seorang astronom terkemuka.

Selama waktu tersebut, ia menulis sebuah karya monumental yang mengkaji tentang sejarah peradaban kuno di tengah pengaruh silih bergantinya kerajaan. Buku itu sebagai penanda yang jelas bahwa di masa depan al-Biruni akan menjadi seorang ilmuan yang menguasai berbagai cabang keilmuan. Ini lebih dari sekadar buku sejarah. Karena buku merevolusi sejarah sains, astronomi, budaya, dan juga menjelaskan peristiwa sejarah. Dengan produktivitasnya di Jurjan, Al-Biruni menjadi salah satu ilmuan utama di zamannya melalui karya-karyanya.Di usia 20 tahun, ia pindah jauh dari daerah asalnya demi menimba ilmu pengetahuan. Selama 3 tahun ia melakukan perjalanan di seluruh Persia, belajar dari para ilmuan tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan. Akhirnya, pada tahun 998, ia menetap di Jurjan (Gorgan). Ia menjadi pegawai pemerintah setempat, Shams al-Ma’ali Qabus. Selama 10 tahun berikutnya, ia tinggal di kota kecil di wilayah tenggara Iran. Di tempat inilah ia melakukan penelitian, menulis buku, dan semakin banyak belajar.
Di Wilayah Kerajaan Ghazni
Al-Biruni tidak merampungkan beberapa karya monumentalnya hingga ia pindah ke Ghazni. Sebuah wilayah yang berada di bawah naungan Sultan Mahmud. Di masa itu, Ghazni adalah sebuah kota yang besar. Sebuah kota yang sekarang menjadi wilayah Afghanistan. Kerajaan Sultan Mahmud membentang jauh melampaui perbatasan Afghanistan modern. Wilayahnya sekarang meliputi Iran, Pakistan, dan India. Di kerajaan yang kuat ini, al-Biruni memiliki sumber daya dan kemampuan untuk menunjukkan apa yang ia mampu lakukan.
Sultan Mahmud memulai ekspedisi militernya ke India dengan sangat rapi. Tujuannya adalah melindungi pengaruhnya di sana. Kebiasaan Sultan Mahmud dalam ekspedisi militernya adalah mengajak serta al-Biruni. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi al-Biruni. Ia bisa mengenal berbagai bahasa, budaya, dan agama yang ada di India.

Karena kemampuannya membaca teks-teks Hindu kuno, al-Biruni mampu mengkompilasi sebuah ensiklopedia sejarah India kuno, yang dikenal sebagai Kitab Tarikh al-Hind(Ensiklopedi Sejarah India). Menariknya, banyak kabar tentang India kuno yang diketahui orang-orang masa kini berasal langsung dari buku al-Biruni. Tarikh al-Hind lebih dari sekadar memberitahu pembaca tentang India kuno, namun buku ini juga merupakan fakta bahwa al-Biruni mampu mengumpulkan begitu banyak ilmu yang berbeda untuk memahami latar belakang peristiwa sejarah. Buku ini adalah jendela untuk mengetahui falsafah India, geografi, dan kebudayaannya. Al-Biruni menenggelamkan diri dalam kajiannya, untuk memberi hadiah pada dirinya akan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang sejarah India. Dengan demikian, Tarikh al-Hind benar-benar dapat dianggap sebagai salah satu buku pertama di dunia antropologi, studi masyarakat manusia dan perkembangan mereka.Mendapatkan anugerah kecerdasan yang mampu melahirkan ide-ide baru dengan mudah, al-Biruni dengan cepat berhasil menguasai bahasa Sansekerta dan bahasa liturgi Hindu. Kemampuan ini membuka khazanah pengetahuan baru. Ia bisa mempelajari budaya India langsung dari literatur-literatur aslinya. Kemudian membandingkannya dengan buku-buku dari belahan dunia yang lain. Ia menerjemahkan buku dari bahasa Sansekerta ke bahasa Arab dan Persia. Juga sebaliknya, dari bahasa Arab ke bahasa Sansekerta. Al-Biruni berpandangan bahwa beragamnya peradaban bertujuan untuk saling mempelajari satu sama lain, bukan saling menghancurkan.
Penemuan Ilmiah
Selain menjadi expert dalam sejarah dan budaya India, al-Biruni juga berhasil menentukan waktu yang tepat untuk membuat gebrakan ilmiah. Banyak ekspedisi yang ia lakukan sangat membantunya melihat dan mengenal variasi geografis dari sumber aslinya. Teori yang ia terapkan juga berhasil membuat mereka terhubung. Dengan menganalisis berbagai jenis partikel tanah di Sungai Gangga dari sumbernya hingga ke Teluk Benggala, al-Biruni merumuskan teori tentang erosi dan bagaimana proses terjadinya pembentukan tanah. Terutama mencatat peran air dalam proses ini.
Dalam kajian studi terkait, ia menemukan fosil-fosil kuno hewan laut di pegunungan yang memutus wilayah India dari seluruh wialayah dunia, Himalaya. Tampaknya tidak mungkin bahwa siput dari laut terdalam, kerang dan yang lainnya melakukan perjalanan ribuan mil ke daratan hingga ke kaki gunung. Dari sini al-Biruni sampai pada kesimpulan bahwa pada suatu masa Pegunungan Himalaya pasti pernah menjadi dasar laut. Dan sekarang, berpindah ke titiknya saat ini setelah jutaan tahun. Kajian ini secara langsung memberikan pemahaman di era modern ini tentang lempeng tektonik. Bagaimana benua bergerak dan bergeser dari waktu ke waktu.
Al-Biruni juga memelopori bidang geologi. Karena ia berhasil mengumpulkan, menganalisis, dan menyusun ratusan logam dan permata. Ia mampu menggambarkan sifat-sifat mereka. Bagaimana mereka dibuat, dan di mana benda-benda itu dapat ditemukan. Bukunya yang mengkaji tentang permata menjadi standar untuk memahami batu berharga selama ratusan tahun.
Al-Biruni terus mengecap pencapaian yang luar biasa hingga awal tahun 1000-an. Ia melakukan penelitian ke bidang-bidang seperti:
Bagaimana bumi berputar pada porosnya.
Bagaimana sumur dan sumber-sumber air membawa air ke permukaan.
Menggabungkan statika dan dinamika ke dalam studi mekanika.
Mencatat garis lintang dan bujur dari ribuan kota sehingga memungkinkannya untuk menentukan arah kiblat setiap kota.
Meneliti sifat optik dari bayangan yang berguna untuk menghitung atau memperkirakan kapada masuk waktu shalat-shalat yang lima waktu.
Membuat pemisahan (deferensiasi) astronomi ilmiah dari astrologi takhayul.
Selama 75 tahun masa hidupnya, al-Biruni berhasil merevolusi banyak tradisi keilmuan. Saat ia meninggal pada tahun 1048, ia telah menulis lebih dari 100 buku, yang saat ini banyak yang telah punah. Kecerdasan dan penguasaannya terhadap berbagai cabang keilmuan dan kemampuannya untuk mensinergikannya berhasil melahirkan pemahaman ilmu yang lebih baik sesuai dengan fungsinya. Hal ini juga menjadikannya termasuk di antara para ilmuan muslim terbesar sepanjang masa.
Kehadirannya maembantu keilmuan cendekiawan muslim di masa lalu untuk mengoptimalkan batas pengetahuan dan membangun batas baru. Dan juga berfungsi sebagai bukti nyata bahwa para ilmuan bisa mencapai kemampuan terbaik di tengah ketidak-stabilan politik, konflik, dan ketidak-jelasan kondisi. Dalam keadaan demikian para ilmuan bisa melakukan penelitian yang mengubah dunia dan membuat penemuan luar biasa.(KM.Com)
Daftar Pustaka
Ajram, K. The Miracle of Islamic Science. Cedar Rapids: Knowledge House Publishers, 1992. Print.
Dallal, Ahmad. Islam, Science, and the Challenge of History. New Haven & London: Yale University Press, 2010. Print.
Khan, Muhammad. The Muslim 100. Leicestershire, United Kingdom: Kube Publishing Ltd, 2008. Print.
Morgan, M. (2007). Lost History. Washington D.C. : National Geographic Society.
Diterjemahkan dari: http://lostislamichistory.com/al-biruni/
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

30 Jan 2018

Membuat Kurikulum Membaca Untuk Anak di Keluarga

”Teng, saatnya membaca!” teriak saya.
Keempat anak saya bergegas menghentikan aktivitasnya bermain dengan wajah cemberut. Barangkali kecewa karena keasyikannya mendadak terhenti. Tapi, ini harus dilakukan sebab anak ada kewajiban untuk melakukan kegiatan selanjutnya yang tidak kalah mengasyikannya, yaitu membaca bersama.
Keempat anak saya bergegas masuk kamar. Ada yang mengambil buku tulis, buku dongeng dan buku pelajaran sekolah. Keempatnya kemudian berkumpul di ruang belajar yang nyaman. Mereka sudah siap untuk melakukan kegiatan membaca bersama.
Saya dan istri langsung berbaur. Saya mengajak Nera dan Zaka duduk di sebelah saya untuk mendengarkan saya membacakan buku dongeng. Mafi yang duduk di bangku kelas lima langsung membaca buku pelajaran, sambil sesekali membaca majalah anak-anak. Sedangkan Keila bermain coret-coret buku sambil berceloteh.
Saat itu keluarga kami terlibat dalam kegiatan membaca, dalam suatu waktu yang sudah saya dan istri susun. Membaca yang kami lakukan secara bersama-sama setiap hari dalam satu waktu tertentu yang sudah disepakati bersama.
Selesai membaca, kami kemudian bermain tebak-tebakan tentang isi bacaan yang sudah dibaca atau dibacakan. Anak-anak antusias menjawab dengan senang. Anak-anak saling berebut menjawab. Salah tidak masalah sebab yang terpenting senang.
Selesai bermain tanya jawab, anak-anak kemudian bermain mewarnai dan coret-coret di buku dan papan tulis. Anak-anak sangat senang sampai hampir dua jam lebih kegiatan membaca ini dilakukan.
”Teng! Selesai!” Teriak saya tanda kegiatan membaca bersama usai.
Anak-anak tampak kembali cemberut, tetapi ini pun harus disiplin untuk menegakkan aturan. Anak-anak kemudian menata buku-buku dan alat tulis, kemudian bergegas untuk menyiapkan kegiatan selanjutnya.
Inilah yang saya sebut sebagai kurikulum membaca sederhana yang ada dalam keluarga. Kurikulum yang mengatur kegiatan membaca anak-anak kita, sehingga mereka paham kapan saatnya bermain dan membaca.
Dengan membuat kurikulum membaca ini, maka setiap harinya akan ada kegiatan membaca bersama yang dilakukan anak-anak dengan orang tuanya. Kegiatan yang melibatkan keluarga untuk berkumpul dan berkomunikasi dengan media buku. Buku untuk dibaca dan dibacakan agar anak-anak kita terbiasa membaca dan memiliki wawasan luas.
Dari sinilah kesadaran keluarga untuk menanamkan kebiasaan dan budaya membaca bagi anak ditanamkan. Melalui kurikulum membaca ini anak-anak akan diorganisir sejak dini setiap harinya untuk melakukan kegiatan membaca. Jika terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama, anak-anak akan terbiasa dengan membaca.
Untuk itu, jika keluarga ingin anak-anaknya memiliki kebiasaan membaca yang bagus, maka dalam sehari, harus memiliki kurikulum membaca. Kurikulum yang akan memuat empat hal penting sebagai berikut:
Pertama, kapan kegiatan membaca bersama akan dilakukan. Orang tua dan anak berdiskusi untuk menetapkan waktu yang tepat untuk membaca bersama dalam sehari. Waktu yang semua anggota bisa berkumpul bersama. Jika sudah ditentukan, maka semua harus komitmen untuk menjadikan waktu itu sebagai saat yang tepat untuk membaca bersama.
Kedua, menentukan materinya, yaitu dalam kegiatan membaca bersama ini, buku-buku apa yang akan dibaca. Apakah buku-buku dongeng, majalah atau buku pengetahuan. Materi buku yang akan dibaca kemudian bisa disusun, misalnya, setiap minggunya, dua hari buku dongeng, dua hari buku aktivitas, dan dua hari buku sains.
Ketiga, buatlah kegiatan yang menyenangkan dalam waktu membaca bersama tersebut. Misalnya, kegiatan akan diisi dengan membaca atau membacakan bersama, kemudian bertanya-jawab, menceritakan isi bacaan dan bermain dari buku yang dibuatkan orang tuanya dan setelah selesai akan diakhiri dengan makan jajan bersama. Dengan urutan kegiatan yang jelas anak-anak akan suka.
Keempat, berikan apresiasi pada anak atas kemampuan yang diperoleh. Artinya, jika anak-anak telah patuh pada kurikulum membaca ini, maka dalam tempo, misalnya sebulan sekali, adakan kegiatan apresiasi sebagaibentuk hadiah atas kedisiplinan dan kemampuan anak dalam mengikuti kurikulum membaca dengan baik. Apresiasi ini akan membuat anak-anak senang dalam membaca.
Dari kurikulum membaca inilah keluarga sedang menyiapkan anak-anaknya untuk gemar membaca dan sukses dalam pendidikan karena anak-anak menjadi pintar dan cerdas. Untuk itu, menjadikan anak-anak kita hobi membaca dan cerdas bukan semata memerintahkan anak belajar, tetapi mampu membuat kurikulum yang kemudian akan mengatur orang tua dan anak-anaknya membaca bersama secara berkelanjutan. (Heru Kurniawan - Pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir)

23 Jan 2018

8 Cara Menyenangkan Mengenalkan Makanan Sehat Kepada Anak

Makanan sehat mengandung gizi yang seimbang yang diperlukan tubuh agar dapat berkembang secara optimal. Di dalamnya terdapat vitamin, karbohidrat, protein, lemak, air dan mineral.
Mengenalkan makanan sehat kepada anak perlu dilakukan sejak dini. Ini penting karena banyak sekali makanan olahan yang dijual bebas disekolah-sekolah dan kurang bisa dipertanggungjawabkan kesehatannya. Apalagi umumnya anak lebih suka membeli jajan di luar dan lebih menyukai makanan olahan yang kita tidak bisa jamin kesehatannya daripada makanan yang Anda buat di rumah.
Namun mengenalkan dan membuat anak-anak menyukai makanan sehat olahan kita sendiri gampang-gampang susah. Agar upaya Anda membuahkan hasil, yuk coba 8 cara menyenangkan menurut Joan Khalaf yang dikutip dari activekids.com berikut:
Pertama, merencanakan menu bersama keluarga. Pilihlah waktu seminggu sekali misalnya untuk merancang menu sehat bersama anak-anak. Anda bisa menanyakan makanan apa yang mereka suka, tawarkan juga ide makanan sehat dari kita kepada anak-anak.
Misalnya: ”Nugget pilihanmu juga enak lho kalau kita masaknya kita campuri wortel dan brokoli.” Atau, ”Jagung dan keju juga enak untuk snack siangmu di sekolah!”
Kedua, tempatkan makanan sehat ke dalam piring atau mangkuk yang bergambar kartun anak-anak. Bisa juga piring-piring warna warni yang disukai anak-anak. Dengan tampilan yang menarik membuat selera makan anakpun meningkat.
Ketiga, biarkan bermain dengan makanan mereka. Misalnya kita ajak anak-anak menghias makanan atau nasi dengan cetakan berbentuk gambar lucu atau macam-macam cetakan bergambar binatang maupun buah-buahan, demikian juga sayur dan lauk pauk-pauknya. Bebaskan anak untuk berkreasi dengan makanannya.
Keempat, sesekali ajaklah anak ke dapur untuk memasak bersama. Anda bisa memasak bersama anak-anak di dapur. Ajak anak terlibat dalam aktivitas memasak. Pilihlah menu menu makanan sehat yang bisa bunda lihat di internet atau buku buku resep masakan.
Kelima, buat kumpulan-kumpulan resep masakan. Anda bisa menyusun kumpulan resep masakan yang ke dalam sebuah album yang dibuat bersama anak-anak. Suatu saat Anda dan anak-anak bisa membuka kembali album tersebut untuk mencari inspirasi menu-menu makanan sehat.
Keenam, selalu menjaga kebersihan dan kesehatan sebelum makan maupun dalam aktivitas bermain dengan makanan sehat. Dengan cara mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudahnya. Demikian juga peralatan yang dipakai dalam menyiapkan makanan sehat selalu harus dalam keadaan bersih sebelum dan sesudah kegiatan.
Ketujuh, luangkan waktu untuk bercakap-cakap bersama keluarga. Bercakap-cakap tentang makanan yang dikonsumsi dan semua hal yang Anda tahu tentang makanan sehat yang enak dan mudah didapat agar anak-anak tertarik memakannya.
Kedelapan, biarkan anak-anak belajar berekplorasi dengan sajian makanan sehatnya. Ekplorasi rasa makanan, warna dan tampilan makanan sehat dapat dilihat saat makanan sehat ditampilkan. Anak-anak dapat saling berbagi ide dan pengalaman tentang makanan sehat. Jadilah pendengar yang baik terlebih dahulu dan berikan motivasi agar anak-anak dapat mengedepankan kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat. (Siti Munfarijah – Pegiat Literasi dan Kepala Sekolah di TK Diponegoro 146, Purwokerto Barat)
 copas dari https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

22 Sep 2017

Jangan Asal Menghukum Anak

”Kakak, kenapa adik nangis, dipukul kakak lagi, ya?” tanya ibu. Perbuatan memukul ini sudah sering dilakukan. Ibu kemudian menghukum kakak dengan tidak diberi uang jajan selama tiga hari. Namun seperti tidak ada kapoknya walaupun sering dihukum kakak tetap saja mengganggu adiknya.
Kejadian anak yang membuat ulah sering kita temui di sekolah maupun di rumah. Anak yang tidak mengerjakan PR, tidak menaati tata tertib atau ketika di rumah tidak mau belajar, sering bertengkar dengan saudaranya dan lain-lain.
Menghadapi anak yang demikian, kadang orang tua atau guru memberi hukuman. Dengan begitu diharapkan bisa meredakan perilaku anak tersebut.
Namun tidak mudah memberikan hukuman pada anak. Salah-salah hukuman yang diberikan tidak akan memberikan efek jera. Apalagi setiap kali anak melakukan kesalahan selalu hukuman yang diberikan. Alih-alih anak menjadi jera malah semakin menjadi.
Sebelum memberikan hukuman, ada hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua atau guru, antara lain:

Pertama, memempertimbangkan ketepatan hukuman yang diberikan. Ketika anak tidak dapat mengerjakan PR misalnya, lihatlah apakah karena malas atau memang tidak mendapatkan kondisi yang optimal ketika belajar.
Kedua, bicarakan dengan anak apa yang menyebabkannya melakukan sesuatu yang tidak baik. Anak dapat saja mempunyai alasan tersendiri kenapa ia melakukan sesuatu yang dianggap tidak baik. Memberi pengertian kenapa perilakunya tidak benar jauh lebih membuat anak memahami kekeliruannya dibanding dengan hukuman fisik maupun psikis.
Ketiga, hukuman hanya akan merusak harga diri anak. Apalagi jika dilakukan di depan teman-temannya. Belum lagi jika mempunyai masalah, akan gampang putus asa.
Olok-olok dari teman-temannya akan memperburuk situasi psikisnya. Anak menjadi kurang bergaul dan malu, ketakutan dan menjadi pemurung.
Keempat, tegur dengan kata-kata yang tidak mengandung umpatan dan makian. Anak yang sering dimarahi apalagi dengan kata-kata kasar biasanya jika berada di luar rumah sulit terkendali dalam pergaulan dengan teman-temannya.
Kelima, beritahu kesalahannya dan menanyakan masalahnya kemudian mencari solusi adalah cara tepat daripada memarahi dengan sikap berlebihan.
Keenam, hindari hukuman yang berlebihan pada anak hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang sering dilakukan. Berdiskusi adalah cara terbaik untuk saling mengungkapkan keinginan kita terhadap anak, terhadap hal-hal yang harus dan yang tidak boleh dilakukan. (Sikhah – Guru Taman Kanak Kanak Pertiwi Bobosan, Purwokerto Utara)

24 Jul 2017

Demi Anak

Copas, terharu banged baca nya 
DEMI ANAK
By: Amalia Sinta
Bila seorang ayah ditanya; mengapa ia bekerja sedemikian keras, pasti jawabannya adalah Demi Anak.
Tapi ia lupa, bahwa anak tidak butuh begitu banyak harta, namun butuh banyak perhatian dan keterlibatan nyata ayahnya.
Agar si anak perempuan mendapat figur lelaki yang melindungi dan mencintainya, sehingga kelak ia tak mudah terjebak bujuk rayu pemuda yang membawa cinta palsu.
Agar anak lelakinya mendapat contoh nyata bagaimana bersikap. Agar tak melambai, terbawa arus LGBT atau pornografi karena penasaran mendera namun tak ada tempat bertanya..
♧♧♧
Bila seorang ibu rumah tangga ditanya; mengapa ia mau seharian berada di rumah, pasti jawabannya adalah Demi Anak.
Tapi ia lupa, bahwa anak butuh ditemani bermain dengan terlibat langsung.
Bukan hanya disediakan sekotak besar mainan, buku-buku yang tidak dibacakan, apalagi gadget tercanggih agar duduk diam. Sang ibu sibuk memasak, mencuci, dan terus saja membereskan rumah.
Dan dari sejak bangun tidur hingga malam tiba, si anak selalu merasa sendiri, kesepian tak berujung. Makin sedih hatinya, saat ia merengek ingin mencuri sedikit perhatian, malah cubitan yang harus ia rasakan. Sakit di kulit mungkin tak bikin melilit. Tapi torehan luka hati akan ia bawa hingga nanti..
♧♧♧
Bila seorang ibu yang berbisnis dari rumah ditanya; mengapa ia juga sibuk mencari uang, pasti jawabannya adalah Demi Anak.
Tapi ia lupa, bahwa anaknya sering telat makan, mandi, ataupun terlalu lama nonton TV, karena ibunya sibuk membalas pesan konsumen yang tiada henti. Bisnisnya makin berkembang namun tak juga punya asisten untuk membantunya.
Sang ibu senang karena banyak pemasukan. Tapi sang anak sedih, karena hatinya merasa semakin jauh dari pelukan ibunya. Ia tak bisa paham mengapa benda kecil bernama handphone itu selalu dipegang oleh ibunya, sungguh terasa lebih penting daripada dirinya, seorang anak yang katanya sangat dicintai sang ibu. Entah kapan terakhir ia dibelai dengan lembut, dicium tanpa terburu-buru..
♧♧♧
Bila seorang ibu yang bekerja di luar rumah ditanya; mengapa ia begitu semangat mengejar karir mengukir prestasi tinggi, pasti jawabannya adalah Demi Anak.
Tapi ia lupa, bahwa anak harus jadi prioritas, walaupun hatinya sedang cemas karena situasi kantor yang memanas.
Saat lelah mendera karena setumpuk deadline, setelah menembus macetnya jalanan kota, ia mendapati anaknya di rumah rewel tak jelas apa maunya. Ia mencoba bersabar, namun tangisnya tak jua mereda. Emosi tak bisa terbendung lagi.
Sang anak yang merindukan belaian, malah mendapat ancaman agar lekas bungkam. Dan esoknya dia harus terima dalam diam, bahwa ia akan menunggu berjam-jam lamanya hanya untuk melihat ibunya hadir lagi di rumah..
♧♧♧
Dear orangtua yang baik,
Lihatlah kaki anak kita yang masih begitu kecil
Ia tak kan sanggup mengimbangi
Saat kita berlari mengejar dunia
Ia akan tertatih bahkan terluka
Saat ini cukuplah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup
Bukan untuk mengejar gaya hidup
Yang tak kan pernah ada ujungnya itu..
Sungguh,
Tak perlulah bekerja hingga lembur malam, Ayah
Tak perlulah keadaaan rumah harus selalu bersih rapi sempurna, Ibu
Tak perlulah mengejar posisi tinggi dulu di kantor dan di bisnis, Bunda
Karena bila terlalu sibuk dan fokus bekerja
Kita tak punya waktu dan tenaga lagi untuk mereka
Padahal mereka sedang masanya bereksplorasi dan berekspresi
Maka kita akan bereaksi
Dengan amarah dan emosi tinggi
Dear ayah ibu yang baik,
Anak-anak sangat membutuhkan kehadiran kita
Yang nyata, terlibat dalam permainannya
Yang nyata, bertanya perasaan hati tentang kejadian yang ia alami
Yang nyata, memberikan belaian, pelukan dan ciuman yang menentramkan hatinya
Saat ini, di lima tahun pertamanya
Adalah saat tepat untuk kita membentuk karakternya
Menanamkan nilai spiritual yang kita yakini kebenarannya
Mengajarkannya nilai tentang kesopanan, disiplin, welas asih dan toleransi
Saat untuk memantau perkembangan fisik dan mental anak
Agar tak sampai gagal tumbuh
Rasanya sia-sia belaka
Bila uang yang kita kumpulkan selama ini
Hanya habis untuk biaya terapi karena kegagalan tumbuh kembang anak
Nanti, saat anak kita sudah lepas masa balita
Saat kita sudah berhasil menanamkan segala hal baik dalam hatinya
Bolehlah kau kembali menghidupkan hasrat untuk berkerja keras
Mengumpulkan pundi emas
Mengejar cita-cita yang masih tergantung bebas
DEMI ANAK,
Demi harta paling berharga bernama anak,
Saat ini hadirlah di setiap tawa, tangis dan sejuta rasa dalam hatinya
Sehingga bila kelak ia telah tumbuh besar dalam bahagia
Namamu lah yang akan ia sebut sebagai pahlawan hidupnya
Karena sungguh,
Engkaulah,
Sang Orangtua Hebat yang mampu seimbangkan antara bekerja dan keluarga.

17 Jul 2017

Fokuslah dengan kelebihan itu

Copas dari Grup WA FOSIL
Animals Schooling
(Renungan Menyongsong Tahun Pelajaran Baru)
Di sebuah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para binatang.
Statusnya "disamakan" dengan sekolah manusia.
Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran dan mendapatkan ijazah.
Terdapat 5 mata pelajaran dalam sekolah tersebut:
a. Terbang
b. Berenang
c. Memanjat
d. Berlari
e. Menyelam
Banyak siswa yang bersekolah di "animals schooling", ada elang, tupai, bebek, rusa dan katak.
Terlihat di awal masuk sekolah, masing masing siswa memiliki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.
Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada di atas kemampuan binatang lain.
Demikian juga katak, sangat mahir pada pelajaran menyelam.
Namun, beberapa waktu kemudian karena "animals schooling" mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.
Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.
Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi karena belajar terbang.
Bebek seringkali ditertawakan meski sudah bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sudah mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.
Semua siswa berusaha dengan susah payah namun belum juga menunjukkan hasil yang lebih baik.
Tidak ada siswa yang menguasai 5 mapel tersebut dengan sempurna.
Kini, lama kelamaan.
Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenang dengan baik karena sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, karena terlalu sering belajar memanjat.
Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan kita.
Orangtua berharap anaknya serba bisa.
Sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.

Les A, Kursus B, Les C, kursus D, private E dan sebagainya dan berjibun kegiatan lain tanpa memperhatikan dan fokus pd potensi anaknya masing masing.
Mari kita syukuri karunia luar biasa yang sudah Allah amanahkan kepada para orangtua yang memiliki anak-anak yang sehat dan lucu.
Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing masing.
Ada yang dominan di limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak.
Sehingga masing masing memiliki kelebihannya sendiri sendiri.
Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senantiasa fasilitasi agar terus berkembang.
Janganlah kita disibukkan dengan kekurangannya.
Karena sesungguhnya setiap anak yang terlahir di dunia ini adalah cerdas (di kelebihannya masing-masing), istimewa dan mereka adalah Bintang yang bersinar di antara kegelapan Malam.
Inilah saatnya kita bergandeng tangan menggali potensi diri anak dan anak didik kita seoptimal mungkin.
Selamat berjuang Ayah dan Bunda serta para pendidik. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita mengiringi kesuksesan peserta didik serta ananda kelak di dunia dan di akhirat. Aaamiiin...